Lanjutan..
Sepertinya, sampai
segitu dulu rencananya. Nanti kalo ada lagi, pasti aku kasi tau. Aku tulis lagi
disini. Hemm..apakah ini waktu yang tepat untuk bercerita? Soal yang tadi
malam? Apakah aku akan baik2 saja? Yup. Aku akan baik2 saja. Bukankah aku telah
menjadi kuat? Jadi apa yang ditakutkan. Baiklah, di mulai saja.
Pukul 09.37 aku sms dia.
Sebelumnya, paginya dia udah sms aku duluan untuk ngebahas tu masalah. Tapi,
tau lah. Aku gak suka kalo ngebahas masalah serius kayak gitu pas siang-siang.
Masalah yang akan mengurus emosi. Meskipun aku yakin sudah punya kekuatan untuk
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, tapi tetap saja, aku ingin
mencari perlindungan. Dan perlindungan itu, hanya ada pada malam hari. Di saat
orang rumah udah pada ke kamarnya masing-masing. Tau kan apa yang aku maksud?
Iya, aku cengeng. Kamu bener, aku cengeng. Harusnya kamu ngerti, aku takut
nangis siang2. Hanya tidak ingin ada yang tau apa yang ku rasakan. Tidak ingin
ada yang mengkhawatirkanku. Wahh.. mulia sekali hati ini, haha :D
Pukul 09.41, dia balas sms aku.
Harap2 cemas aku nunggu balasan dia. Dia bilang kalo jaringannya lagi gangguan.
Dia mau ngebahas lewat bbm. Yup. Inilah saatnya, saatnya aku invite dia. Yang
ke tiga kalinya. Gara2 aku ngambek kemaren, lantaran sikap dia yang nyebelin
itu, buat ngehapus pernyataan konyolku, aku delcont dia. Ehh, akhirnya aku lagi
yang invite dia. Ya sudahlah. Tapi benar gak sih kamu capture? Pernyataan itu?
Oh no, hapus please…
Oh ya, aku masang dp
baru. Hasil make overku bareng kakak, dengan make kacamata gede dan kerudungan
seadanya, dp aku benar2 cantik. Hihi. Aku puas banget ama hasil fotonya. Teman
aku aja bilang, kalo aku cantik kayak gitu, jadi kalo dia yang ngeliat, kira2
dia bakal terpesona gak ya? Trus mengubah keputusannya, dan akhirnya nembak
aku? Halaahhh ngarep.
Ok, back to topic. Emm selama 2
hari, sebenarnya aku sudah memikirkan apa yang akan menjadi keputusannya. Dan
keputusannya itu, pasti akan bikin aku syok lagi. Memang, lagi2 aku yakin bahwa
aku akan cukup kuat untuk mendengarnya, tapi, lagi2 juga, aku masih gak siap.
Aku gak siap mendengar apa yang akan dia katakana tentang hubungan kami ke
depannya. Jadi, hanya karena semata2 mengkhwatirkan diriku, aku ingin masalah
itu tidak perlu dibahas lagi. Biarkan saja begitu, dan anggap tidak pernah ada
yang terjadi. Memang, walau bagaimana pun, itu telah terjadi, dan bikin aku
syok dan menyesal karena telah membahasnya, tapi sumpah, aku gak siap. Aku
terlalu takut untuk mengalami syok yang lebih besar dari hari itu. Iya, aku
takut sakit. Aku takut nangis. Hufft..
Namun yang terjadi, tentu saja
dia tidak memenuhi inginku. Laki-laki apa yang bisa menganggap semua hal tidak
pernah terjadi, ketika seorang wanita menyatakan perasaan pada dirinya. Aku tau
dia bukan lelaki seperti itu. Jadi ketika dia bertanya, apakah ada lelaki lain
yang aku sukai selain dirinya, aku langsung menjawabnya dengan jujur. Tidak ada
yang aku sukai selain kaka. Memang ada beberapa yang sempat dekat, tapi tetap
saja, kaka tetap jadi yang number one dihati aku. Selama hampir satu tahun ini,
belum ada yang dapat mengubah posisi itu. Kenapa? Mungkin karena bawa an sifat
aku. Sifat aku yang selalu konsisten setiap kali menyukai seorang lelaki. Jika
aku sudah tertarik pada satu lelaki, lalu sering melihatnya, berkomunikasi
sesekali, jika sudah begitu, pintu2 di hatiku, langsung tertutup untuk lelaki
lain. Selain itu, aku sering lebay dalam menyukai seseorang. Beberapa tahun
terakhir ini. Sering melakukan hal apapun demi menarik perhatiannya, menaruhkan
keselamatanku demi hal itu. Aku yakin itu terjadi karena pengaruh cerita film
yang terbawa dalam kehidupan nyataku. Mengorbankan apapun demi seseorang yang
dicintai, bukankah hal itu sering terjadi di film? Film thai? Drama korea? Yup.
Itulah biang keroknya. Haha :D
Oh ya, dia juga nanya.
Katanya kenapa harus dia? Kenapa gak kaka tingkat yang lain?
Emm…kalo yang itu aku
gak ngejawab. Lupa. Hehe, tapi aku akan jawab disini. Kenapa harus kaka, karena
kaka lah, kaka tingkat keren pertama yang aku liat di kampus ini. Dengan kamera DSLR di depan wajah kaka, pas kaka lagi motret, saat
itulah, momen paling istemewa yang bikin aku kepincut ama kaka. Padahal pas
liat kaka pertama kali, pas perkenalan, biasa aja. Gak ada yang istimewa.
Bahkan aku gak merhati in dan lupa nama kaka siapa. Tapi kenapa pas lagi
motret, pesonanya jadi beda ya? Entahlah. Kalau itu aku tidak bisa menjawabnya.
Hemm.. andai aku bisa liat kaka seperti itu lagi. Bisa gak balik lagi ke
tanggal 7 bulan september 2013?
Pertanyaan selanjutnya, dia
nanya maunya aku apa. Mau pacaran atau gak. Ugh. Nanyain cewe kayak gitu.
Seharusnya dia tau dong mau aku apa, kenapa harus ditanyain lagi. Iya ka, aku
mau pacaran sama kaka, tapi gak bisa, lantaran yang punya keinginan itu Cuma
aku sorang. Alias bukan kemauan 2 belah pihak. Jadi aku jawab aja kalo aku gak
mau pacaran. Trus dia nanya kenapa. Ya aku bilang saja bahwa aku gak mau
menjalin hubungan karena terpaksa dan dikasihanin. Dia yang gak ada niatan mo
pacaran, trus terpaksa pacaran lantaran kasihan sama aku. Yahh meskipun so
sweet banget kalo dia mau melakukan itu karena ingin mengobati harga diriku
yang terluka karena pernyataan konyol kemaren. Tapi tetap saja, niat awalnya
karena terpaksa. Percuma, gak ada so sweetnya lagi.
Eh, udah dibilangin gak mau
pacaran karena kepaksa, dia nanya lagi. ‘Mau pacaran atau temenan?’ Trus pake
dijelasin lagi, soal alasan dia yang gak mau pacaran, karena gak mau ngecewain
aku. Iihh sebenernya sadar gak sih dia, kalo sekarang pun dia udah ngecewa in
aku. Gak perlu nunggu pacaran ama kaka, aku pun udah kecewa ka, berkali-kali
malah. Yahh..memang begitulah konsekuensinya ketika menyukai seseorang. Ketika
seorang wanita/lelaki menjatuhkan hatinya kepada seseorang, mulai saat itu, dia
harus selalu siap untuk sakit hati dan kecewa. Sakit hati karena cemburu,
kecewa karena kenyataan yang ada tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua
berawal ketika fase jatuh cinta, bukan pada fase ketika menjalin suatu hubungan
atau berpacaran. Ku jelaskan hal itu padanya, dan dia pun masih juga bertanya,
‘mau temenan apa pacaran?’
Huufft.. sebenarnya kaka kenapa
sih? Aku udah bilang, aku gak mau pacaran kalo ada unsur kepaksa dan rasa iba,
aku cuma mau pacaran kalo kita punya rasa yang sama, yaitu suka. Dan aku tau
kaka gak punya perasaan seperti itu padaku. Iya kan? Jadi sebenarnya, intinya
itu keputusannya ada di tangan kaka. Kalo kaka gak mau dan gak bisa pacaran, ya
udah gak usah pacaran. Cukup temenan. Karena posisi aku disini emang gak bisa
buat maksa kaka pacaran sama aku. Meskipun sebenarnya, kalo dipikir2, aku bisa
meyakinkan kaka, mematahkan semua alasan2 itu. Karena emang alasan yang kaka
bilang itu, agak kurang realistis buat aku. Kaka punya banyak masalah dan tidak
ingin melbatkan aku di dalamnya. Kenapa harus begitu? Bukankah dalam pacaran,
istilah ‘aku’ dan ‘kamu’ telah ditiadakan? Berganti menjadi ‘kita’. Masalah
kaka, masalah aku juga, masalah kita. Memang agak lebay sih, justru itulah sikap
saling percaya dan terbuka itu penting ada pada setiap pasangan. Biar hubungan
awet dan gak banyak berantemnya. Trus kaka bilang, kaka orangnya pencemburu,
suka negative thinking, pemarah, gegabah dalam bertindak. Kaka gak mau pacar
kaka jadi korban karena sifat buruk kaka itu. Intinya, kaka gak mau dia sakit
hati dan kecewa karena kaka. Ka, aku selalu siap untuk kecewa. Aku kecewa bukan
karena kaka, tapi karena aku sendiri, karena aku yang telah jatuh cinta sama
kaka. Aku terima konsekuensi jatuh cinta, yaitu sakit hati. Dan aku harus
selalu siap untuk menghadapi semua hal buruk yang akan terjadi selama aku
menyukai kaka. Aku bisa. Pasti bisa. Kita sama-sama belajar, ka. Belajar saling
mengerti, saling memahami karakter masing-masing, belajar memaafkan, bersabar,
dan belajar menerima apa adanya. Kaka labil, mungkin aku lebih labil lagi. Aku
punya keyakinan, dengan bersama, kita pasti bisa melewati masa-masa sulit dalam
hubungan. Jadi gak akan ada yang namanya korban. Aku percaya itu ka. Dan
terakhir kaka bilang kalo kaka cuma akan menyukai atau menyayangi seseorang,
apabila suatu hubungan telah dimulai, bukan ketika pdkt. Aku gak setuju. Suka
dan sayang itu beda. Menyukai belum tentu menyayangi, namun menyayangi, pasti
juga menyukai. Rasa suka cenderung timbul sebelum suatu hubungan dimulai.
Sedangkan sayang? Barulah setelah hubungan itu dimulai. Jika memang kaka
menyukai seseorang setelah hubungan itu dimulai, artinya sudah jelas bahwa kaka
tidak menyukaiku. Kaka tidak punya perasaan apapun terhadapku. Apalagi ketika
kaka bilang bahwa semua cewe kaka anggap sama sebelum hubungan itu dimulai.
Yup. Sangat jelas sekali. Perasaanku bertepuk sebelah tangan.
Nah, dari apa yang aku jabarkan
di atas, menurut kaka, apa aku berhasil mematahkan alasan san prinsip kaka?
Berhasilkah? Seandainya semua itu ku katakana pada kaka, apakah itu dapat
mengubah keputusan yang kaka ambil?
Karena keputusannya ada pada
dia, dia lah yang menentukan mau dibawa kemana hubungan ini. Dan dia tetap
memilih tidak pacaran, melainkan temenan. Dia bilang, kalo dia lebih nyaman
kayak gini, temenan kayak gini. Dia bilang dia udah cape pacaran. Karena semua
alasan2 itu. Trus dia minta aku untuk tidak patah hati dan sakit hati. Maaf ka,
aku gak bisa penuhin. Karena emang 2 hari yang lalu udah terasa sakit, apalagi
saat ini. Sakit banget. Napas aja ampe sulit saking nyeseknya. Tapi gak papa.
Cuma bentar kok. Toh sekarang aku baik2 aja. Berkat kekuatan dari Yang Maha
Kuasa, aku bisa menulis, membaca ulang pesan kaka,dan mengingat semua yang
terjadi tadi malam. Aku baik2 aja kak. :)
Namun ada suatu pesan yang bikin
air mata ini langsung mengalir ketika membacanya. Ketika kaka bilang bahwa kaka
bentar lagi mo lulus, dan hanya tersisa beberapa bulan lagi kaka kuliah,
sumpah, bikin aku nyesek tak tertahankan. Maksudnya apa? Apa setelah lulus,
kaka bakal pergi? Pergi kemana? Kaka bakal pindah? Gak bakal tinggal di bjb
lagi? Trus kemana?
Apa yang kurasakan
adalah ketakutan. Takut tidak bisa melihatnya lagi. Takut tidak bisa mencari2
dirinya lagi ke mandiangin, takut benar2 kehilangannya. Ketika aku ingin
menanyakan hal itu, keburu masuk lagi sms2 berikutnya. Rupanya masih banyak
yang ingin dia sampaikan padaku. Apakah dia telah menyiapkannya sebelumnya?
Sms-sms berikutnya dia bilang
gini ‘Insya Allah kalo jodoh, aku siap jadi imam kamu nanti. Kemudian yang kamu
bilang aku kasihan atau terpaksa, sebenernya itu gak benar. Kemaren aku pernah
bilang bahwa aku menyukai cewe bukan dari cantiknya, kayanya, pintarnya,
alimnya, melainkan karena rasa nyaman terhadap cewe itu. Sebelum itu, aku juga
pernah bilang, dulu, entah kamu sadar atau gak, aku bilang bahwa cewe yang
sekarang lagi dekat ama aku itu cuma kamu, dan aku ngerasa nyaman sama kamu.’
Deg. Apa yang dia katakana itu.
Kalimat terakhir itu, sumpah, aku baru menyadarinya sepenuhnya sekarang. Tadi
malam aku gak begitu sadar. Dan itu artinya? O em ji, Ya Allah, apa dia juga
menyukaiku? Memang sih, kalo dia gak ngerasa nyaman sama aku, mana mungkin kami
bisa sedekat ini, mana mungkin dia berkali-kali ngajak aku kencan. Oh Tuhan,
benarkah dia juga menyukaiku? Sejak kapan? Sejak kaka mengatakan bahwa aku
satu-satunya cewe yang dekat ama kaka? Atau sejak kaka nulis status di fesbuk,
yang berbunyi ‘mulai menyukai dirinya’, ‘mulai ada rasa’. Apakah dia yang kaka
maksud adalah aku? Status itu tertulis tanggal 30 mei 2014. Udah 2 bulan yang
lalu? Benarkah itu ka?
Tapi kenapa pas aku nanya apakah
aku berhasil atau tidak menarik perhatian kaka, kaka cuma bilang ‘kayaknya’.
Huhh pasti berhasil. Aku telah berhasil ketika kaka pertama kali ngajak aku
jalan, seharusnya sih negitu. Jika tidak, mana mungkin hubungan kita bisa
sampai seperti ini. Begitu bukan? Haha.
Dan pesan yang paling paling
paling bikin aku susah napas, yang sakitnya masih bisa kurasakan hingga saat
ini, saat dia bilang makasih atas semua perjuanganku, semua yang kulakukan,
tentang perasaanku, dan terima kasih untuk segala-galanya. Saat dia mengatakan harapannya
agar perasaanku tidak hanya berhenti padanya. Masih banyak lelaki lain yang
lebih baik dari dia. Secara tidak langsung, dia memintaku untuk menyerah, dia
mematahkan harapanku. Dia menyuruhkun untuk berhenti menyukainya. Hal yang
tidak pernah aku bayangkan, yang tidak ingin aku lakukan.
Aku harus bagaimana? Apa yang
harus aku lakukan jika dia memintaku begitu? Berkali-kali ku ucapkan pertanyaan
itu di sela2 tangisku. Apa yang harus kulakukan, Ya Allah? Haruskah aku
melupakannya? Menyerah pada perasaanku? Bukankah dia menyukaiku? Kenapa? Kenapa
harus seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana mungkin dia berpesan padaku
jika aku punya pacar, aku tidak boleh
bertanya padanya dia juga punya pacar apa belum? Karena malu? Apakah kaka
yakin, kaka gak akan pacaran lagi? Benar2 gak akan pacaran lagi? Sampai kapan
ka? Soal ini, aku gak yakin ka. Maaf. Aku juga gak punya keyakinan, bisa
pacaran lagi. Karena perasaan yang aku punya saat ini, entah kenapa begitu
sulit untuk ditinggalkan. Entah karena mengendap begitu lama, atau hanya
tekadku saja yang kurang. Hanya saja, ka. Aku tidak ingin memikirkan tentang
hal itu. Tentang pacaran, tentang cowo, tentang cinta, aku benar2 cape akan hal
itu. Mungkin aku akan istirahat. Saatnya kembali meraih mimpi2ku. Menyusun
kembali rencana yang sempat tertunda. Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik
demi orang tua dan masa depanku. Inilah yang Nam maksud. ‘Mempergunakan cinta
dengan sebaik-baiknya, dia menjadi kekuatan bagi saya, mendorong saya menjadi
pribadi yg lebih baik, dan lebih baik lagi.’
Meskipun aku tidak begitu yakin
dapat melupakan perasaanku, aku akan berusaha jika itu yang kaka minta. Aku
tidak akan membebani kaka, membiarkan kaka merasa bersalah, karna menolak perasaanku. Aku akan berusaha ka, hanya saja
caraku tidak seperti yg kaka pikirkan. Melupakan seseorang dengan mengganti
yang lain, itu bukan gayaku. :)
Oh ya, terakhir kaka pinta agar aku
tidak menjauh setelah malam ini. Iya, Insya Allah aku tidak akan menjauh. Insya
Allah tidak ada yang berubah. Tapi ada sebuah film yang mengatakan, hehe lagi2
film, katanya, ketika seseorang telah menyatakan cintanya, segalanya akan
berubah. Tidak akan sama seperti sebelumnya. Ada benarnya juga sih. Karena aku gak yakin
besok malam kita bisa chat an lagi, atau 50 hari ke depan, kita bisa ketemuan
lagi. Aku jadi takut. Takut kehilangan kaka. Ah sudahlah. Jangan mewek lagi,
okkey??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar