expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 23 Juli 2014

Rapat kabinet, katanya :D

Lanjutan..

           Sepertinya, sampai segitu dulu rencananya. Nanti kalo ada lagi, pasti aku kasi tau. Aku tulis lagi disini. Hemm..apakah ini waktu yang tepat untuk bercerita? Soal yang tadi malam? Apakah aku akan baik2 saja? Yup. Aku akan baik2 saja. Bukankah aku telah menjadi kuat? Jadi apa yang ditakutkan. Baiklah, di mulai saja.
                Pukul 09.37 aku sms dia. Sebelumnya, paginya dia udah sms aku duluan untuk ngebahas tu masalah. Tapi, tau lah. Aku gak suka kalo ngebahas masalah serius kayak gitu pas siang-siang. Masalah yang akan mengurus emosi. Meskipun aku yakin sudah punya kekuatan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, tapi tetap saja, aku ingin mencari perlindungan. Dan perlindungan itu, hanya ada pada malam hari. Di saat orang rumah udah pada ke kamarnya masing-masing. Tau kan apa yang aku maksud? Iya, aku cengeng. Kamu bener, aku cengeng. Harusnya kamu ngerti, aku takut nangis siang2. Hanya tidak ingin ada yang tau apa yang ku rasakan. Tidak ingin ada yang mengkhawatirkanku. Wahh.. mulia sekali hati ini, haha :D
                Pukul 09.41, dia balas sms aku. Harap2 cemas aku nunggu balasan dia. Dia bilang kalo jaringannya lagi gangguan. Dia mau ngebahas lewat bbm. Yup. Inilah saatnya, saatnya aku invite dia. Yang ke tiga kalinya. Gara2 aku ngambek kemaren, lantaran sikap dia yang nyebelin itu, buat ngehapus pernyataan konyolku, aku delcont dia. Ehh, akhirnya aku lagi yang invite dia. Ya sudahlah. Tapi benar gak sih kamu capture? Pernyataan itu? Oh no, hapus please…
Oh ya, aku masang dp baru. Hasil make overku bareng kakak, dengan make kacamata gede dan kerudungan seadanya, dp aku benar2 cantik. Hihi. Aku puas banget ama hasil fotonya. Teman aku aja bilang, kalo aku cantik kayak gitu, jadi kalo dia yang ngeliat, kira2 dia bakal terpesona gak ya? Trus mengubah keputusannya, dan akhirnya nembak aku? Halaahhh ngarep.
                Ok, back to topic. Emm selama 2 hari, sebenarnya aku sudah memikirkan apa yang akan menjadi keputusannya. Dan keputusannya itu, pasti akan bikin aku syok lagi. Memang, lagi2 aku yakin bahwa aku akan cukup kuat untuk mendengarnya, tapi, lagi2 juga, aku masih gak siap. Aku gak siap mendengar apa yang akan dia katakana tentang hubungan kami ke depannya. Jadi, hanya karena semata2 mengkhwatirkan diriku, aku ingin masalah itu tidak perlu dibahas lagi. Biarkan saja begitu, dan anggap tidak pernah ada yang terjadi. Memang, walau bagaimana pun, itu telah terjadi, dan bikin aku syok dan menyesal karena telah membahasnya, tapi sumpah, aku gak siap. Aku terlalu takut untuk mengalami syok yang lebih besar dari hari itu. Iya, aku takut sakit. Aku takut nangis. Hufft..
                Namun yang terjadi, tentu saja dia tidak memenuhi inginku. Laki-laki apa yang bisa menganggap semua hal tidak pernah terjadi, ketika seorang wanita menyatakan perasaan pada dirinya. Aku tau dia bukan lelaki seperti itu. Jadi ketika dia bertanya, apakah ada lelaki lain yang aku sukai selain dirinya, aku langsung menjawabnya dengan jujur. Tidak ada yang aku sukai selain kaka. Memang ada beberapa yang sempat dekat, tapi tetap saja, kaka tetap jadi yang number one dihati aku. Selama hampir satu tahun ini, belum ada yang dapat mengubah posisi itu. Kenapa? Mungkin karena bawa an sifat aku. Sifat aku yang selalu konsisten setiap kali menyukai seorang lelaki. Jika aku sudah tertarik pada satu lelaki, lalu sering melihatnya, berkomunikasi sesekali, jika sudah begitu, pintu2 di hatiku, langsung tertutup untuk lelaki lain. Selain itu, aku sering lebay dalam menyukai seseorang. Beberapa tahun terakhir ini. Sering melakukan hal apapun demi menarik perhatiannya, menaruhkan keselamatanku demi hal itu. Aku yakin itu terjadi karena pengaruh cerita film yang terbawa dalam kehidupan nyataku. Mengorbankan apapun demi seseorang yang dicintai, bukankah hal itu sering terjadi di film? Film thai? Drama korea? Yup. Itulah biang keroknya. Haha :D
Oh ya, dia juga nanya. Katanya kenapa harus dia? Kenapa gak kaka tingkat yang lain?
Emm…kalo yang itu aku gak ngejawab. Lupa. Hehe, tapi aku akan jawab disini. Kenapa harus kaka, karena kaka lah, kaka tingkat keren pertama yang aku liat di kampus ini. Dengan kamera DSLR di depan wajah kaka, pas kaka lagi motret, saat itulah, momen paling istemewa yang bikin aku kepincut ama kaka. Padahal pas liat kaka pertama kali, pas perkenalan, biasa aja. Gak ada yang istimewa. Bahkan aku gak merhati in dan lupa nama kaka siapa. Tapi kenapa pas lagi motret, pesonanya jadi beda ya? Entahlah. Kalau itu aku tidak bisa menjawabnya. Hemm.. andai aku bisa liat kaka seperti itu lagi. Bisa gak balik lagi ke tanggal 7 bulan september 2013?
                Pertanyaan selanjutnya, dia nanya maunya aku apa. Mau pacaran atau gak. Ugh. Nanyain cewe kayak gitu. Seharusnya dia tau dong mau aku apa, kenapa harus ditanyain lagi. Iya ka, aku mau pacaran sama kaka, tapi gak bisa, lantaran yang punya keinginan itu Cuma aku sorang. Alias bukan kemauan 2 belah pihak. Jadi aku jawab aja kalo aku gak mau pacaran. Trus dia nanya kenapa. Ya aku bilang saja bahwa aku gak mau menjalin hubungan karena terpaksa dan dikasihanin. Dia yang gak ada niatan mo pacaran, trus terpaksa pacaran lantaran kasihan sama aku. Yahh meskipun so sweet banget kalo dia mau melakukan itu karena ingin mengobati harga diriku yang terluka karena pernyataan konyol kemaren. Tapi tetap saja, niat awalnya karena terpaksa. Percuma, gak ada so sweetnya lagi.
                Eh, udah dibilangin gak mau pacaran karena kepaksa, dia nanya lagi. ‘Mau pacaran atau temenan?’ Trus pake dijelasin lagi, soal alasan dia yang gak mau pacaran, karena gak mau ngecewain aku. Iihh sebenernya sadar gak sih dia, kalo sekarang pun dia udah ngecewa in aku. Gak perlu nunggu pacaran ama kaka, aku pun udah kecewa ka, berkali-kali malah. Yahh..memang begitulah konsekuensinya ketika menyukai seseorang. Ketika seorang wanita/lelaki menjatuhkan hatinya kepada seseorang, mulai saat itu, dia harus selalu siap untuk sakit hati dan kecewa. Sakit hati karena cemburu, kecewa karena kenyataan yang ada tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua berawal ketika fase jatuh cinta, bukan pada fase ketika menjalin suatu hubungan atau berpacaran. Ku jelaskan hal itu padanya, dan dia pun masih juga bertanya, ‘mau temenan apa pacaran?’
                Huufft.. sebenarnya kaka kenapa sih? Aku udah bilang, aku gak mau pacaran kalo ada unsur kepaksa dan rasa iba, aku cuma mau pacaran kalo kita punya rasa yang sama, yaitu suka. Dan aku tau kaka gak punya perasaan seperti itu padaku. Iya kan? Jadi sebenarnya, intinya itu keputusannya ada di tangan kaka. Kalo kaka gak mau dan gak bisa pacaran, ya udah gak usah pacaran. Cukup temenan. Karena posisi aku disini emang gak bisa buat maksa kaka pacaran sama aku. Meskipun sebenarnya, kalo dipikir2, aku bisa meyakinkan kaka, mematahkan semua alasan2 itu. Karena emang alasan yang kaka bilang itu, agak kurang realistis buat aku. Kaka punya banyak masalah dan tidak ingin melbatkan aku di dalamnya. Kenapa harus begitu? Bukankah dalam pacaran, istilah ‘aku’ dan ‘kamu’ telah ditiadakan? Berganti menjadi ‘kita’. Masalah kaka, masalah aku juga, masalah kita. Memang agak lebay sih, justru itulah sikap saling percaya dan terbuka itu penting ada pada setiap pasangan. Biar hubungan awet dan gak banyak berantemnya. Trus kaka bilang, kaka orangnya pencemburu, suka negative thinking, pemarah, gegabah dalam bertindak. Kaka gak mau pacar kaka jadi korban karena sifat buruk kaka itu. Intinya, kaka gak mau dia sakit hati dan kecewa karena kaka. Ka, aku selalu siap untuk kecewa. Aku kecewa bukan karena kaka, tapi karena aku sendiri, karena aku yang telah jatuh cinta sama kaka. Aku terima konsekuensi jatuh cinta, yaitu sakit hati. Dan aku harus selalu siap untuk menghadapi semua hal buruk yang akan terjadi selama aku menyukai kaka. Aku bisa. Pasti bisa. Kita sama-sama belajar, ka. Belajar saling mengerti, saling memahami karakter masing-masing, belajar memaafkan, bersabar, dan belajar menerima apa adanya. Kaka labil, mungkin aku lebih labil lagi. Aku punya keyakinan, dengan bersama, kita pasti bisa melewati masa-masa sulit dalam hubungan. Jadi gak akan ada yang namanya korban. Aku percaya itu ka. Dan terakhir kaka bilang kalo kaka cuma akan menyukai atau menyayangi seseorang, apabila suatu hubungan telah dimulai, bukan ketika pdkt. Aku gak setuju. Suka dan sayang itu beda. Menyukai belum tentu menyayangi, namun menyayangi, pasti juga menyukai. Rasa suka cenderung timbul sebelum suatu hubungan dimulai. Sedangkan sayang? Barulah setelah hubungan itu dimulai. Jika memang kaka menyukai seseorang setelah hubungan itu dimulai, artinya sudah jelas bahwa kaka tidak menyukaiku. Kaka tidak punya perasaan apapun terhadapku. Apalagi ketika kaka bilang bahwa semua cewe kaka anggap sama sebelum hubungan itu dimulai. Yup. Sangat jelas sekali. Perasaanku bertepuk sebelah tangan.
                Nah, dari apa yang aku jabarkan di atas, menurut kaka, apa aku berhasil mematahkan alasan san prinsip kaka? Berhasilkah? Seandainya semua itu ku katakana pada kaka, apakah itu dapat mengubah keputusan yang kaka ambil?
                Karena keputusannya ada pada dia, dia lah yang menentukan mau dibawa kemana hubungan ini. Dan dia tetap memilih tidak pacaran, melainkan temenan. Dia bilang, kalo dia lebih nyaman kayak gini, temenan kayak gini. Dia bilang dia udah cape pacaran. Karena semua alasan2 itu. Trus dia minta aku untuk tidak patah hati dan sakit hati. Maaf ka, aku gak bisa penuhin. Karena emang 2 hari yang lalu udah terasa sakit, apalagi saat ini. Sakit banget. Napas aja ampe sulit saking nyeseknya. Tapi gak papa. Cuma bentar kok. Toh sekarang aku baik2 aja. Berkat kekuatan dari Yang Maha Kuasa, aku bisa menulis, membaca ulang pesan kaka,dan mengingat semua yang terjadi tadi malam. Aku baik2 aja kak. :)
                Namun ada suatu pesan yang bikin air mata ini langsung mengalir ketika membacanya. Ketika kaka bilang bahwa kaka bentar lagi mo lulus, dan hanya tersisa beberapa bulan lagi kaka kuliah, sumpah, bikin aku nyesek tak tertahankan. Maksudnya apa? Apa setelah lulus, kaka bakal pergi? Pergi kemana? Kaka bakal pindah? Gak bakal tinggal di bjb lagi? Trus kemana?
Apa yang kurasakan adalah ketakutan. Takut tidak bisa melihatnya lagi. Takut tidak bisa mencari2 dirinya lagi ke mandiangin, takut benar2 kehilangannya. Ketika aku ingin menanyakan hal itu, keburu masuk lagi sms2 berikutnya. Rupanya masih banyak yang ingin dia sampaikan padaku. Apakah dia telah menyiapkannya sebelumnya?
                Sms-sms berikutnya dia bilang gini ‘Insya Allah kalo jodoh, aku siap jadi imam kamu nanti. Kemudian yang kamu bilang aku kasihan atau terpaksa, sebenernya itu gak benar. Kemaren aku pernah bilang bahwa aku menyukai cewe bukan dari cantiknya, kayanya, pintarnya, alimnya, melainkan karena rasa nyaman terhadap cewe itu. Sebelum itu, aku juga pernah bilang, dulu, entah kamu sadar atau gak, aku bilang bahwa cewe yang sekarang lagi dekat ama aku itu cuma kamu, dan aku ngerasa nyaman sama kamu.’
                Deg. Apa yang dia katakana itu. Kalimat terakhir itu, sumpah, aku baru menyadarinya sepenuhnya sekarang. Tadi malam aku gak begitu sadar. Dan itu artinya? O em ji, Ya Allah, apa dia juga menyukaiku? Memang sih, kalo dia gak ngerasa nyaman sama aku, mana mungkin kami bisa sedekat ini, mana mungkin dia berkali-kali ngajak aku kencan. Oh Tuhan, benarkah dia juga menyukaiku? Sejak kapan? Sejak kaka mengatakan bahwa aku satu-satunya cewe yang dekat ama kaka? Atau sejak kaka nulis status di fesbuk, yang berbunyi ‘mulai menyukai dirinya’, ‘mulai ada rasa’. Apakah dia yang kaka maksud adalah aku? Status itu tertulis tanggal 30 mei 2014. Udah 2 bulan yang lalu? Benarkah itu ka?
                Tapi kenapa pas aku nanya apakah aku berhasil atau tidak menarik perhatian kaka, kaka cuma bilang ‘kayaknya’. Huhh pasti berhasil. Aku telah berhasil ketika kaka pertama kali ngajak aku jalan, seharusnya sih negitu. Jika tidak, mana mungkin hubungan kita bisa sampai seperti ini. Begitu bukan? Haha.
                Dan pesan yang paling paling paling bikin aku susah napas, yang sakitnya masih bisa kurasakan hingga saat ini, saat dia bilang makasih atas semua perjuanganku, semua yang kulakukan, tentang perasaanku, dan terima kasih untuk segala-galanya. Saat dia mengatakan harapannya agar perasaanku tidak hanya berhenti padanya. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari dia. Secara tidak langsung, dia memintaku untuk menyerah, dia mematahkan harapanku. Dia menyuruhkun untuk berhenti menyukainya. Hal yang tidak pernah aku bayangkan, yang tidak ingin aku lakukan.
                Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan jika dia memintaku begitu? Berkali-kali ku ucapkan pertanyaan itu di sela2 tangisku. Apa yang harus kulakukan, Ya Allah? Haruskah aku melupakannya? Menyerah pada perasaanku? Bukankah dia menyukaiku? Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?
                Bagaimana mungkin dia berpesan padaku  jika aku punya pacar, aku tidak boleh bertanya padanya dia juga punya pacar apa belum? Karena malu? Apakah kaka yakin, kaka gak akan pacaran lagi? Benar2 gak akan pacaran lagi? Sampai kapan ka? Soal ini, aku gak yakin ka. Maaf. Aku juga gak punya keyakinan, bisa pacaran lagi. Karena perasaan yang aku punya saat ini, entah kenapa begitu sulit untuk ditinggalkan. Entah karena mengendap begitu lama, atau hanya tekadku saja yang kurang. Hanya saja, ka. Aku tidak ingin memikirkan tentang hal itu. Tentang pacaran, tentang cowo, tentang cinta, aku benar2 cape akan hal itu. Mungkin aku akan istirahat. Saatnya kembali meraih mimpi2ku. Menyusun kembali rencana yang sempat tertunda. Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik demi orang tua dan masa depanku. Inilah yang Nam maksud. ‘Mempergunakan cinta dengan sebaik-baiknya, dia menjadi kekuatan bagi saya, mendorong saya menjadi pribadi yg lebih baik, dan lebih baik lagi.’
                Meskipun aku tidak begitu yakin dapat melupakan perasaanku, aku akan berusaha jika itu yang kaka minta. Aku tidak akan membebani kaka, membiarkan kaka merasa bersalah, karna menolak  perasaanku. Aku akan berusaha ka, hanya saja caraku tidak seperti yg kaka pikirkan. Melupakan seseorang dengan mengganti yang lain, itu bukan gayaku. :)
                Oh ya, terakhir kaka pinta agar aku tidak menjauh setelah malam ini. Iya, Insya Allah aku tidak akan menjauh. Insya Allah tidak ada yang berubah. Tapi ada sebuah film yang mengatakan, hehe lagi2 film, katanya, ketika seseorang telah menyatakan cintanya, segalanya akan berubah. Tidak akan sama seperti sebelumnya.  Ada benarnya juga sih. Karena aku gak yakin besok malam kita bisa chat an lagi, atau 50 hari ke depan, kita bisa ketemuan lagi. Aku jadi takut. Takut kehilangan kaka. Ah sudahlah. Jangan mewek lagi, okkey??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar