expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 22 Oktober 2014

My first kiss, my dream.

22 okt 2015, 11.10 pm
    Guys, aku kecewa. Aku mengharapkan sesuatu, dan dia tidak memahaminya. Aku sedih. Perih banget rasanya, ketika dia meremehkan prinsipku, membuat aku seegois ini, tak memahami apa yg aku rasakan saat ini.
    Emang salah jika aku memimpikan first kiss ku utk suami ku dimalam pertamaku? Tidak kan? Itu impianku. Impianku sejak dulu. Ingin sekali merasakan indahnya ciuman pertama dg seseorang yg telah bnr2 ditakdirkn utkku. Dmlm pertama setelah melalui proses ijab kabul disiang harinya. Disaat semua yg haram mnjdi halal. Dsmw yg brnilai maksiat, mjd brnilai ibadah. Aku ingin merasakannya. Apa aku salah?
      Ku katakan hal itu padanya. Dan dia menerima dan berjanji tdk akan menghancurkan impianku. Aku senang dan aku percaya padanya. Namun, dia mempertanyakan keikhalasanku apabila suamiku nanti, justru tidak melakukan hal itu utk pertama kalinya. Dia bertanya, apakah aku ikhlas jika ternyata first kiss yg aku berikan utk suamiku, justru sdh pernah suamiku berikan utk wanita lain?
     Sulit sekali menjawabnya. Padahal jawabannya hanya satu. Aku harus ikhlas. Karena org itu suamiku. Aku telah memilihnya. Aku mennerima dia apa adanya. Termasuk masa lalunya. Mungkin al tidak setuju dg jawabanku. Dia menolak prinsipku. Aku sedih. Aku agak kecewa.
    Padahal aku berharap, sangat berharap. Bahwa org itu adalah dirinya. Org yg beruntung itu. Aku berharap saat ini dia bisa sepertiku. Mengikuti prinsipku. Hanya memberikan first kiss nya utk wanita yg tepat. Wanita yg tepat itu adlh istrinya. Dan aku berharap akulah yg akan mendapatkannya. Tapi dia tdk mengatakannya. Dia tidak memahami maksudku. Aku sedih.
    Aku tau aku egois. Hanya mempedulikan impianku, tanpa mempedulikan hal yg lain. Tentu saja dia menginginkan first kissku. Dan aku tak bisa memberikannya. Aku tau dia kecewa. Maaf al, maaf. Bukan berarti sayangku kurang padamu. Hanya saja aku terlalu menantikan saat indah itu. Saat indah ketika kita dipertemukan takdir, brjNji sehidup semati akan selalu bersama. Aku sayang kamu, al.

Senin, 13 Oktober 2014

What should I do?



13 Oktober 2014, 09.34 pm
                What should I do? What should I do, God?
Aku bingung. Aku gak tau apa yg harus kulakukan. Untuk menghiburnya, untuk membantunya, aku tak bisa. Aku hanya bisa menangis, tanpa tau harus bagaimana. Aku sedih. Aku sedih memikirkannya. Apa yang dia pikirkan menjadi apa yang aku pikirkan. Beban yang dia tanggung, aku tak bisa menguranginya.
                Hidup seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa bertahan? Sesulit itu kah? Bagaimana bisa? Bagaimana kamu bisa bertahan hingga sejauh ini? Kekuatan apa yang kamu miliki, al? Hal itukah yang membuatmu sekurus ini? Memiirkan banyak hal sendirian. Uang kuliahmu, tugas kuliahmu, kau menjadikan itu beban dalam kesendirian? Bagaimana bisa?
                Maafkan aku. Maafkan aku karena tak bisa melakukan apapun untukmu. Hanya bisa mendo’akanmu lewat shalatku. Sungguh, aku tak ingin beban seberat itu kau tanggung sendirian. Aku ingin membantu, tapi apa yang bisa kulakukan?
                Ya Allah, aku memohon padaMu. Dengarkan setiap perkataannya. Kabulkan pintanya Ya Allah. Berikan yang terbaik untuknya. Mudahkan urusannya. Bimbing dia menjadi orang yang sukses di dunia dan di akherat. Aku menyayangi, sungguh menyayanginya.Tidak ingin sesuatu apapun terjadi padanya Ya Allah.

Minggu, 12 Oktober 2014

Finally, i read you again.

12 oktober 2014, 11.11 pm
    Guys, aku bahagiaaaa bgt malam ini. Aku tambah sayang sama dia. Sayaaang, sayang, sayang. Makan siomay bareng dia, becanda ama dia, sedikit rayuan kecil dari dia, dan genggaman tangannya yang masih bisa kurasakan saat ini.
   Aku seneng. Dia pake jaket pemberianku. Yahh meskipun awalnya agak lucu dan gak cocok, tp tadi bagus2 aja kok. Hehe. Dia tetap keren. Hidungnya tetap mancung, dan wangi parfumnya yg nyelengiit banget. Eh, sebenernya ku kurang suka parfumnya yg sekarang. Lebih suka yg dulu. Krn udah lekat bgt di idung aku, dan jdi bagian identitas dirinya. Tp gk papa lah. Peduli amat soal parfum. Kamu pake parfum atau gak, wangi atau gak, gak peduli lah. Kamu tetap keren, pacarku yang paaaling kusayang. *hug
     Oh ya, makasih al. Akhirnya kamu bawa pesanan aku juga. Surat cintaku tempo dulu, yg khusus aku dan kakaku(hehe) tulis buat kamu, akhirnya kamu bawain. Aku sampe histeris. Ku pikir kamu bakal terus lupa. Eh, kamu ingat. Hihi aku jadi senyum2 sendiri pas ngebaca. Jadi flashback sendiri.
     Ternyata gak ada yg sia2. Apa yg kulakukan tempo dulu, menulis surat cinta utkmu, mengagumimu sejak pertama kali ku melihatmu, tidaklh sia2. Krna kini kau membalas surat cintaku. Kau berkata 'i love u' padaku. Kau memiliki perasaan yg sama denganku. Aku bahagia. Sangaat bahagia. Makasih al. Kehadiranmu dihidupku, membuat duniaku menjadi lebih berwarna, membuatku lebih ceria. I love u :-)

Jumat, 10 Oktober 2014

Sebel sampe nangis



10 September 2014, 11.09 pm
                Guys, 20 hari telah berlalu. Aku pacaran sama dia, cowok yang aku kagumin sejak dulu. 20 hari, mungkin bukan waktu yang singkat, namun bukan juga waktu yang lama. Entahlah. Yang aku tau, waktu itu tak begitu terasa. Bemacam hal telah ku lewati bersamanya. Tentu saja, sangat berbeda dengan saat itu. Saat aku masih hts’an ma dia. Kini menjadi lebih terbuka, sudah banyak suara yang mampu memecah kekakuan kami. Mungkin karena adanya rasa memiliki satu sama lain, itulah yg membuatku merasa selalu ingin menceritakan semua hal padanya. Tentang diriku, keluargaku, teman-temanku, kebiasaanku.
                Guys, hari ini, setelah berpacaran dengannya 20 hari, untuk pertama kalinya, rasanya aku ingin menangis. Bukan menangis terharu atau bahagia. Entah kenapa rasanya ada sesuatu di dadaku yang mengganjal. Ingin sekali aku menumpahkannya, tapi aku tak bisa.
                Berada di antara teman-temannya, bikin aku mati gaya. Aku bingung gak tau apa yang harus aku lakukan. Aku ingin akrabin teman-temannya, mendekati mereka satu persatu, ingin bergabung di antara mereka. Tapi, kok bisa sesulit ini? Wajar sih, toh baru pertama kali. Aku juga butuh waktu kok. Maaf, al. Maaf kalo aku malu-maluin dan ngecewain.
Guys, aku sebel. Sebel sama mantannya. Kenapa sih, kami harus berada di tempat yang sama, bertiga ama tu orang? Kenapa dia ada disitu? Tidak, yang ada, kenapa harus kesana? Kenapa gak ke tempat lain? Aku sebel, Seakan-akan kehadirannya itu jadi ancaman. Dan kenapa aku harus merasa terancam? Dia tidak lebih cantik dari aku. Dia tidak lebih baik dari aku. Aku punya sesuatu yang dia gak punya. Yang bikin al suka ma aku. Iya kan, al? Tapi kenapa ya? Aku kok sebel banget. Apalagi pas liat dia asik ngobrol sama teman-teman kamu. Seakan-akan mereka dekat karena kamu.
Aku sebel, al. Sebelnya sampe mo nangis. Terasa berada di antara orang asing gitu loh. Di saat aku yang juga tidak begitu mengenalmu, yang tidak tau apapun tentang kamu. Kalian yang mengenal satu sama lain. Mantan kamu yang akrab sama teman kamu. Membuat nyaliku ciut, sebel, sebel sampe nangis. Kenapa sih harus dia yang lebih dulu mengenalmu? Kenapa kesempatan itu datang padanya lebih dulu? Kenapa harus dia yang lebih dulu mengenal teman-temanmu? Kenapa tidak aku? Padahal aku lebih dulu menyukaimu. Aku lebih dulu mengagumimu.