27 juli 2014, 16.00
09.43 am, dia ngechat aku sesaat
setelah aku nulis sebuah status. Saat itu aku
sedang sibuk di dapur. Memasak utk persiapan lebaran besok. Ah, dia
datang tidak diwaktu yg tepat. Namun tetap saja, jika ada kesempatan aku
menyempatkan diri utk balas bbm nya. Saat itu aku pikir dia telah berhenti
bersikap lebay kayak tadi malam. Tapi ternyata tidak. Lagi2, dia memanggilku
‘cinta’. Memanggilku ‘sayang’. Wahh mulai kurang ajar nih. Pasti sekarang dia lagi
puas tertawa. Tertawa karena telah berhasil mengerjaiku. Membuat wajahku
bersemu merah, dan tubuhku melemah. Aku tau. Meski dia tidak melihatku, pasti
dia menyadarinya. Ah menyebalkan. Tapi aku suka. Hehe. Ngerasa dimanjain aja.
Meskipun kami tidak pacaran, dia membuat kedekatakan kami layaknya orang
pacaran. Tapi, apakah kita bisa kencan lagi seperti dulu?
Tadi kami sempat ngelantur
ngebahas masalah2 orang merid. Yahh awalnya sih dia juga yg mulai. Dia ngajak
aku imaman pas shalat zuhur. Ciyee ternyata ada yg mo ngajakin aku jadi
makmumnya. Hihi. Berlanjut bahas soal zakat fitrah. Sekarang kaka aku zakatnya
udah gak diniatin ayah lagi. Suaminya yg niatin. Jadi gitu yah kalo orang udah
nikah? Baru tau. Jadi kepikiran. Gimana responnya kalo aku minta zakat fitrahku
diniatin ama dia? Dia paham gak kira2?
Ternyata dia paham. Hihi. Dia
balas, dengan syarat aku harus jadi makmumnya dulu. Ciyee again. Ya udah ka,
sekarang aja. Jadi in aku makmum aku. Ow ow. Ngebet banget aku nya. Lagi2 dia
memanggilku ‘cinta’. ‘Pengen cepat ya cinta?’. Gitu katanya.
Trus aku mewanti2 dia. Aku
bilang. ‘hayoo..bisa jadi do’a lho’. Dan dia balas, ‘kalo jadi do’a, akan aku
‘amin’kan. Amiiin’. Lantas aku langsung balas ‘Amiin’. Gak kalah dari dia. Wahh..kami
berdua sama2 mengaminkan hal itu. God, apakah itu akan terjadi? Apa jadinya
jika yang mengaminkan tidak hanya kami berdua? Tapi juga dua malaikatmu yang
berada di samping kami? Apakah akan dikabulkan? Tidak. Tidak ada istilah
dikabulkan atau tidak. Karena setau aku, itu takdir bukan? Sudah ditulis sejak
dalam kandungan. Siapa yg akan menjadi jodohnya, dan jodohku? Tapi jika
berharap lalu berdo’a? Apakah bisa mengubah takdir itu?
Tidak dipungkiri, aku memang
mengharapkan hal itu. Bukankah indah, jika hubungan yg kami jalani tidak
melewati masa pacaran, melainkan langsung ke pernikahan? Bukankah sangat indah,
jika aku bisa berjodoh dengan pria yang telah aku sukai bertahun2 lamanya?
Karena aku hanya merencanakan menikah 6-7 tahun lagi. Bukankah indah, jika dia
bisa menungguku selama itu? Sepertinya tidak. Dia sudah bilang akan menikah 3
tahun lagi. Aku baru berumur 22. Baru juga lulus kuliah. Belum mapan, belum
kerja. Argh..apa2 an sih? Ngapain mikir kesitu. Bodoh.
Hanya saja aku menghayal.
Mungkin bisa jadi referensi untuk novelku. Aku menghayal, andai saja mahar
pernikahanku nanti, adalah sebuah surah dalam al-qur’an. Yup, aku minta dia
menjadi maharku. Bagian dari dirinya. Namanya. Al-Kahfi. Jadi, aku ingin dia
membaca surah itu dihadapan penghulu, waliku, dan ayahku. Wahh indah sekali.
Tentu aku akan menitikkan air mata ketika dia membacanya. Ayat suci al-qur’an
menjadi saksi pernikahanku. Momen sakralku seumur hidup. Romantis sekali. Haha
:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar