Oke, sekarang cerita ini akan lebih dramatis lagi. Sebentar lagi, aku
bakal cerita apa yang bikin hati aku nyesek banget, mata sepet, dan tiap kali
bangun tidur, ni mata udah bengkak aja. Karna itulah aku bikin judul baru lagi.
Berawal dari 3 hari sebelumnya. Masih di
tanggal yang sama, 29 januari, di sore harinya. Sebuah percakapan yang tak
pernah kuduga terjadi antara aku dan salah satu tetangga sebelah rumahku.
Anaknya yang kuliah di bjb pernah liat aku berjalan berdua ma kahfi. Lantas
ibunya nanya soal kahfi. Kahfi orang mana, kuliah dimana, seumuran atau gak.
Huhh, kepo banget sih. Sebelumnya aku kasi tau. Kayak giini nih gak enaknya
hidup dikampung. Kalo mau nyimpen rahasia itu harus bener-bener rapat, Harus
disimpan dibrankas berpuluh-puluh lapis. Kalo gak, gini nih, pasti pada kepoooo
aja. Bisa gak sih, kalo tau, kalo ngeliat diam aja gitu loh, atau kalo mo nanya
ama akunya aja. Jangan pas ada nyokap gueh. Apa maksudnya sih? Pake cerita ke
aku kalo ada anak yang baru lulus kuliah langsung dikawinkan ama orang kampong
karena sesuatu hal terjadi. Apa maksudnya cerita hal gitu ke aku didepan nyokap
aku? Biar nyokap aku tau kalo aku punya pacar, dan sering jalan? Pelukkan? Biar
nyokap ku tau dan ngasih tau biar pacaran dengan batas-batas tertentu. Gitu?
Plis, itu urusan gw. Bukan lo, yang sama sekali gak ada hubungan darah ma gw.
Nyokap udah tau kok soal kahfi. Yaa meskipun responnya agak sedikit negative.
Sejak perbincangan singkat itu, pikiran aku
jadi dipenuhi soal kahfi. Sekarang gak cuma kedua orang tua aku aja yang tau
tentang dia, tapi juga tetangga aku. Tetangga aku yang hobinya ngegosip dan
besar kemungkinan dia bakal cerita ke tetangga2 yang lain. Ngomongin aku yang
pelukan pas di motor. Emang gak begitu tau jelas anaknya liat akunya dimana.
Entah disuatu tempat atau pas dijalan di atas motor, yang jelas aku akuin bahwa
gelagat kami di dua tempat itu, agak mesra. Kami sering berpegangan tangan, dan
aku sering peluk dia di motor. Tapi kayaknya itu udah umum deh orang pacaran.
Trus kenapa tetangga aku ngasih tau kesannya kaya aku kelewat batas gitu. Aku
takut kalo sampe gossip gak enak tentang aku menyebar dan bikin malu orang
tuaku. Aku takut kalo aku disuruh putus sama dia. Apalagi terkait respon kedua
orang tuaku yang agak negative terhadap kahfi.
Mama aku yang agak keberatan soal asalnya
kahfi. Yang emang jauh banget dari perkotaan. Kasarnya sih kampong. Trus juga
dia yang cuma D3, bukan S1 kayak aku. Dia yang lulusnya telat satu taun. Juga
kerja sambilannya yang sebagai pelatih PMR. Penampilannya yang kata mamaku,
terkesan cowo nakal. Trus respon ayah aku, yang meragukan apakah kahfi cowo
baik-baik atau gak, karna menurut dia dari penampilan fisik, kahfi keliatan
nakal. Padahal kahfi cowo baik-baik. Dia gak pernah pake anting, ayah. Ayah aku
nanya jarak umurku ma dia, sama soal pekerjaan ayahnya. Hish, ayah emang selalu
kayak gitu. Kan aku pacaran sama anaknya, bukan ayahnya. Aku bilang aja gak
tau, padahal aku tau kok. Ayahnya mungkin seorang petani. Punya sawah, dan
kebun. Sebenarnya gak jauh2 ama ayah aku seandainya gak ada label insinyur di
depan namanya. Hanya saja aku belum siap untuk ngasi tau semua tentang kahfi. Aku
takut ayahku tambah gak suka ma dia dan nyuruh aku putus. Oh no, gak kebayang
deh gimana jadinya.
Jadi bermula dari situ, bayangan-bayangan gak
enak mulai berkelebat dipikiranku. Melihat keadaan kahfi yang seperti ini,
besar kemungkinan mereka tidak akan setuju mengenai hubunganku. Apalagi saat
kuceritakan kepada ibuku tentang nasehat nenek dari ayahku. Beliau menasehatiku
untuk mencari calon suami yang PNS. Seperti dirinya yang memilih kakekku yang
pada saat itu menjabat sebagai kepala sekolah. Aku tau nenekku bermaksud baik.
Dia hanya ingin cucunya hidup terjamin, tidak sengsara, dan berkecukupan. Aku
ceritakan itu pada mamaku. Dan mamaku bertanya padaku. ‘Lia, kamu juga gak
serius kan sama dia? buat rame-rame aja kan?’ Mamaku setuju sama apa yang dibilang
neneku.
Jika dipikir-pikir mereka benar. Pekerjaan
sebagai PNS memang menjamin kehidupan rumah tangga kita berkecukupan. Tapi jika
ada pekerjaan yang gajinya lebih banyak dari seorang PNS, kenapa tidak?
Aku cerita pada kahfi. Tentang respon negative
orang tuaku. Aku cerita sejujur-jujurnya. Aku bilang ada pihak ketiga dari
hubungan kita. Dan dia tau karna itulah aku gak pernah yakin hubungan kami akan
awet. Sakit banget rasanya pas dia mengingatkanku agar aku harus siap jika
suatu saat hubungan kami berakhir karna terhalang restu orang tua ku. Katanya,
aku harus kuat, sabar dan tabah. Bagaimana pun kita gak bisa ngelawan apa yang
dikatakan orang tua. Jika orang tuaku tidak menyetujui hubungan ini dan
menyuruhku untuk memutuskannya, terpaksa aku harus mematuhinya. Aku harus
meninggalkannya meskipun aku masih menyayanginya dengan sangat.
Agak berat saat aku jelaskan soal respon
negative orang tuaku. Aku takut di ngerendah. Dan benar, dia merendahkan
dirinya. Dan itu bikin nyesek. Dia pasti ngerasa mengerdil seketika. Bayangan
akan berpisah nanti terus membayangi alam pikiran kami. Itulah yang bikin air
mataku tak pernah berhenti. Membayangkan harus melupakannya dan mencari
penggantinya, aku tak sanggup. Melupakan semua kenangan itu, sungguh tak
sanggup. Aku teramat menyayanginya dan tidak ingin berpisah dengannya.
Esok harinya, seharian aku ngedrop. Pengen
nangiis mulu. Ada sesuatu didada aku yang selalu ingin melesak keluar. Sakit
banget. Apalagi pas malamnya dia bilang mo ngebahas soal masalah itu. Aku gak siap.
Aku minta dia janji untuk tidak memutuskan apapun. Tapi dia tidak bisa. Aku
takut. Takut banget. Aku benar-benar gak siap kalo harus putus ama dia malam
itu juga. Aku gak ngebayang gimana jadinya mata aku pas paginya. Gimana caranya
aku nangis biar gak ketahuan ama nenek aku. Pokonya aku gak siap kalo harus
nangis didepan orang lain. Aku gak siap putus ma dia. Aku hanya akan siap jika
aku tidak berada diantara keluargaku. Jika aku sendiri, di bjb. Tapi dia tetap
maksa mo bahas itu. Aku melemah, ya, aku selalu melemah akan sikap kerasnya.
Kami akan membahas itu asalkan dia tidak memutuskan hal apapun. Dalam pikiranku
aku berusaha menepis bayangan akan dia yang akan memutuskanku malam ini.
Sungguh aku tidak siap. Namun meski telah ku ajukan syarat padanya, tetap saja.
Dia tidak bisa berjanji untuk tidak memutuskan apapun. Dia benar-benar
keterlaluan, dia setega itu padaku.
Seakan tidak peduli apa yang kukatakan. Meski
berulang kali ku katakan aku tak siap, tetap saja, dia kekeukeh dengan
kemauannya. Aku pasrah. Ku dengarkan pertanyaannya. Ku tanggapi dengan selembut
mungkin. Dia bertanya tentang respon negative orang tuaku. Ku jelaskan tentang
dia yang cuma calon lulusan D3, bukan S1 sepertiku. Bagaimana kolotnya
pemikiran orang tuaku yang menganggap lulusan D3 tidak begitu menjamin
kesuksesan masa depan. Namun aku berkata padanya, bahwa kami bisa mengubah
pemikiran orang tua ku jika dia bisa sukses sebelum menikahiku. Jika dia punya
rumah sendiri untuk kami tinggali, dan uang jujuran dari hasil keringatnya. Aku
minta dia untuk nyari kerja mulai saat ini. Mengumpulkan uang biar bisa wisuda
tahun ini. Setelah wisuda, barulah menabung lagi untuk pernikahin kami, untuk
masa depan dia. Tentulah aku akan membantunya nanti. Aku mengajaknya untuk
nyari kerja sama-sama. Searching internet, di web site lowongan kerja. Meski ku
tau dia kecewa atas sikap orang tuaku, meski dia telah berniat pasrah dan
hampir memutuskanku, aku terus berusaha meyakinkannya. Menyemangatinya, dan
mengungkapkan betapa besar harapanku padanya. Menjadi istrinya nanti. Lagipula
ayah dan ibuku tidak pernh secara langsung melarangku berpacaran dengannya.
Mereka membiarkanku, asalkan aku tau batas pacaran itu seperti apa. Asalkan aku
tidak membuat malu orang tuaku.
Ayah, ibu. Aku tau batasnya. Aku tidak akan
ngecewain atau malu-malu in kalian. Dia cowo yang baik. Dia tidak akan
merusakku. Dia menghargaiku, dia dapat menjagaku, juga menyayangiku. Meski
tidak sebesar sayang kalian terhadapku. Dia akan berusaha, ma. Dia akan nyari
kerja buat wisudanya, lalu juga buat pernikahan kami. Sudah jadi impianku untuk
tidak meminjam uang sepeser pun untuk biaya pernikahan kami nanti. Kami
buktikan, bahwa kami bisa sukses, mandiri, tanpa uang kalian. Sudah banyak yang
kalian lakukan untukku, dan orang tuanya untuk dia.
Wujudkan impian orang tuamu, fi, yang pengen
liat kamu wisuda tahun ini. Kamu pasti bisa. Aku percaya kamu. Jangan nyerah,
oke? Kita bisa lewatin ini. Sama-sama. I love u, fi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar