expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 11 Februari 2015

Don't give up, fi :)



Oke, sekarang cerita ini akan lebih dramatis lagi. Sebentar lagi, aku bakal cerita apa yang bikin hati aku nyesek banget, mata sepet, dan tiap kali bangun tidur, ni mata udah bengkak aja. Karna itulah aku bikin judul baru lagi.
Berawal dari 3 hari sebelumnya. Masih di tanggal yang sama, 29 januari, di sore harinya. Sebuah percakapan yang tak pernah kuduga terjadi antara aku dan salah satu tetangga sebelah rumahku. Anaknya yang kuliah di bjb pernah liat aku berjalan berdua ma kahfi. Lantas ibunya nanya soal kahfi. Kahfi orang mana, kuliah dimana, seumuran atau gak. Huhh, kepo banget sih. Sebelumnya aku kasi tau. Kayak giini nih gak enaknya hidup dikampung. Kalo mau nyimpen rahasia itu harus bener-bener rapat, Harus disimpan dibrankas berpuluh-puluh lapis. Kalo gak, gini nih, pasti pada kepoooo aja. Bisa gak sih, kalo tau, kalo ngeliat diam aja gitu loh, atau kalo mo nanya ama akunya aja. Jangan pas ada nyokap gueh. Apa maksudnya sih? Pake cerita ke aku kalo ada anak yang baru lulus kuliah langsung dikawinkan ama orang kampong karena sesuatu hal terjadi. Apa maksudnya cerita hal gitu ke aku didepan nyokap aku? Biar nyokap aku tau kalo aku punya pacar, dan sering jalan? Pelukkan? Biar nyokap ku tau dan ngasih tau biar pacaran dengan batas-batas tertentu. Gitu? Plis, itu urusan gw. Bukan lo, yang sama sekali gak ada hubungan darah ma gw. Nyokap udah tau kok soal kahfi. Yaa meskipun responnya agak sedikit negative.
Sejak perbincangan singkat itu, pikiran aku jadi dipenuhi soal kahfi. Sekarang gak cuma kedua orang tua aku aja yang tau tentang dia, tapi juga tetangga aku. Tetangga aku yang hobinya ngegosip dan besar kemungkinan dia bakal cerita ke tetangga2 yang lain. Ngomongin aku yang pelukan pas di motor. Emang gak begitu tau jelas anaknya liat akunya dimana. Entah disuatu tempat atau pas dijalan di atas motor, yang jelas aku akuin bahwa gelagat kami di dua tempat itu, agak mesra. Kami sering berpegangan tangan, dan aku sering peluk dia di motor. Tapi kayaknya itu udah umum deh orang pacaran. Trus kenapa tetangga aku ngasih tau kesannya kaya aku kelewat batas gitu. Aku takut kalo sampe gossip gak enak tentang aku menyebar dan bikin malu orang tuaku. Aku takut kalo aku disuruh putus sama dia. Apalagi terkait respon kedua orang tuaku yang agak negative terhadap kahfi.
Mama aku yang agak keberatan soal asalnya kahfi. Yang emang jauh banget dari perkotaan. Kasarnya sih kampong. Trus juga dia yang cuma D3, bukan S1 kayak aku. Dia yang lulusnya telat satu taun. Juga kerja sambilannya yang sebagai pelatih PMR. Penampilannya yang kata mamaku, terkesan cowo nakal. Trus respon ayah aku, yang meragukan apakah kahfi cowo baik-baik atau gak, karna menurut dia dari penampilan fisik, kahfi keliatan nakal. Padahal kahfi cowo baik-baik. Dia gak pernah pake anting, ayah. Ayah aku nanya jarak umurku ma dia, sama soal pekerjaan ayahnya. Hish, ayah emang selalu kayak gitu. Kan aku pacaran sama anaknya, bukan ayahnya. Aku bilang aja gak tau, padahal aku tau kok. Ayahnya mungkin seorang petani. Punya sawah, dan kebun. Sebenarnya gak jauh2 ama ayah aku seandainya gak ada label insinyur di depan namanya. Hanya saja aku belum siap untuk ngasi tau semua tentang kahfi. Aku takut ayahku tambah gak suka ma dia dan nyuruh aku putus. Oh no, gak kebayang deh gimana jadinya.
Jadi bermula dari situ, bayangan-bayangan gak enak mulai berkelebat dipikiranku. Melihat keadaan kahfi yang seperti ini, besar kemungkinan mereka tidak akan setuju mengenai hubunganku. Apalagi saat kuceritakan kepada ibuku tentang nasehat nenek dari ayahku. Beliau menasehatiku untuk mencari calon suami yang PNS. Seperti dirinya yang memilih kakekku yang pada saat itu menjabat sebagai kepala sekolah. Aku tau nenekku bermaksud baik. Dia hanya ingin cucunya hidup terjamin, tidak sengsara, dan berkecukupan. Aku ceritakan itu pada mamaku. Dan mamaku bertanya padaku. ‘Lia, kamu juga gak serius kan sama dia? buat rame-rame aja kan?’ Mamaku setuju sama apa yang dibilang neneku.
Jika dipikir-pikir mereka benar. Pekerjaan sebagai PNS memang menjamin kehidupan rumah tangga kita berkecukupan. Tapi jika ada pekerjaan yang gajinya lebih banyak dari seorang PNS, kenapa tidak?
Aku cerita pada kahfi. Tentang respon negative orang tuaku. Aku cerita sejujur-jujurnya. Aku bilang ada pihak ketiga dari hubungan kita. Dan dia tau karna itulah aku gak pernah yakin hubungan kami akan awet. Sakit banget rasanya pas dia mengingatkanku agar aku harus siap jika suatu saat hubungan kami berakhir karna terhalang restu orang tua ku. Katanya, aku harus kuat, sabar dan tabah. Bagaimana pun kita gak bisa ngelawan apa yang dikatakan orang tua. Jika orang tuaku tidak menyetujui hubungan ini dan menyuruhku untuk memutuskannya, terpaksa aku harus mematuhinya. Aku harus meninggalkannya meskipun aku masih menyayanginya dengan sangat.
Agak berat saat aku jelaskan soal respon negative orang tuaku. Aku takut di ngerendah. Dan benar, dia merendahkan dirinya. Dan itu bikin nyesek. Dia pasti ngerasa mengerdil seketika. Bayangan akan berpisah nanti terus membayangi alam pikiran kami. Itulah yang bikin air mataku tak pernah berhenti. Membayangkan harus melupakannya dan mencari penggantinya, aku tak sanggup. Melupakan semua kenangan itu, sungguh tak sanggup. Aku teramat menyayanginya dan tidak ingin berpisah dengannya.
Esok harinya, seharian aku ngedrop. Pengen nangiis mulu. Ada sesuatu didada aku yang selalu ingin melesak keluar. Sakit banget. Apalagi pas malamnya dia bilang mo ngebahas soal masalah itu. Aku gak siap. Aku minta dia janji untuk tidak memutuskan apapun. Tapi dia tidak bisa. Aku takut. Takut banget. Aku benar-benar gak siap kalo harus putus ama dia malam itu juga. Aku gak ngebayang gimana jadinya mata aku pas paginya. Gimana caranya aku nangis biar gak ketahuan ama nenek aku. Pokonya aku gak siap kalo harus nangis didepan orang lain. Aku gak siap putus ma dia. Aku hanya akan siap jika aku tidak berada diantara keluargaku. Jika aku sendiri, di bjb. Tapi dia tetap maksa mo bahas itu. Aku melemah, ya, aku selalu melemah akan sikap kerasnya. Kami akan membahas itu asalkan dia tidak memutuskan hal apapun. Dalam pikiranku aku berusaha menepis bayangan akan dia yang akan memutuskanku malam ini. Sungguh aku tidak siap. Namun meski telah ku ajukan syarat padanya, tetap saja. Dia tidak bisa berjanji untuk tidak memutuskan apapun. Dia benar-benar keterlaluan, dia setega itu padaku.
Seakan tidak peduli apa yang kukatakan. Meski berulang kali ku katakan aku tak siap, tetap saja, dia kekeukeh dengan kemauannya. Aku pasrah. Ku dengarkan pertanyaannya. Ku tanggapi dengan selembut mungkin. Dia bertanya tentang respon negative orang tuaku. Ku jelaskan tentang dia yang cuma calon lulusan D3, bukan S1 sepertiku. Bagaimana kolotnya pemikiran orang tuaku yang menganggap lulusan D3 tidak begitu menjamin kesuksesan masa depan. Namun aku berkata padanya, bahwa kami bisa mengubah pemikiran orang tua ku jika dia bisa sukses sebelum menikahiku. Jika dia punya rumah sendiri untuk kami tinggali, dan uang jujuran dari hasil keringatnya. Aku minta dia untuk nyari kerja mulai saat ini. Mengumpulkan uang biar bisa wisuda tahun ini. Setelah wisuda, barulah menabung lagi untuk pernikahin kami, untuk masa depan dia. Tentulah aku akan membantunya nanti. Aku mengajaknya untuk nyari kerja sama-sama. Searching internet, di web site lowongan kerja. Meski ku tau dia kecewa atas sikap orang tuaku, meski dia telah berniat pasrah dan hampir memutuskanku, aku terus berusaha meyakinkannya. Menyemangatinya, dan mengungkapkan betapa besar harapanku padanya. Menjadi istrinya nanti. Lagipula ayah dan ibuku tidak pernh secara langsung melarangku berpacaran dengannya. Mereka membiarkanku, asalkan aku tau batas pacaran itu seperti apa. Asalkan aku tidak membuat malu orang tuaku.
Ayah, ibu. Aku tau batasnya. Aku tidak akan ngecewain atau malu-malu in kalian. Dia cowo yang baik. Dia tidak akan merusakku. Dia menghargaiku, dia dapat menjagaku, juga menyayangiku. Meski tidak sebesar sayang kalian terhadapku. Dia akan berusaha, ma. Dia akan nyari kerja buat wisudanya, lalu juga buat pernikahan kami. Sudah jadi impianku untuk tidak meminjam uang sepeser pun untuk biaya pernikahan kami nanti. Kami buktikan, bahwa kami bisa sukses, mandiri, tanpa uang kalian. Sudah banyak yang kalian lakukan untukku, dan orang tuanya untuk dia.
Wujudkan impian orang tuamu, fi, yang pengen liat kamu wisuda tahun ini. Kamu pasti bisa. Aku percaya kamu. Jangan nyerah, oke? Kita bisa lewatin ini. Sama-sama. I love u, fi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar