expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 11 Februari 2015

Khafiku si otak baja



1 February 2015, 02.11 pm
                Happy sunday, and welcome feb ^^ Hal pertama yang aku pinta, semoga bulan ini cepat berlalu. Agar aku dapat kembali bertemu dengannya di bulan depan, bulan kelahiran aku.
                Banyak hal yang kulewati sebelum tiba di hari ini. Hal menakutkan, menyedihkan, mengharukan. Akhir januari yang kelam. Berawal dari perseteruanku dengan nya. Sikapku yang terlalu manja, dan sikap kasarnya dia, bikin kami perang dingin saat itu. Di tambah aku yang dengan sengaja ninggalin dia tidur, bikin dia keesokan harinya makin berang padaku. Aku tak bermaksud membuang dirinya seperti halnya yang dia katakan. Aku hanya sedikit syok saat itu. Balasan chat nya yang kasar dan nadanya yang ngebentak, langsung bikin aku drop dan nangis. Aku langsung diam dan bingung apa yang harus aku katakan. Aku tau saat itu dia sangat marah. Jadi aku membiarkannya mendingin sebentar hingga esok harinya.
                Namun teoriku salah. Yang ada dia malah tambah marah. Dia bilang aku udah ngebuang dia, ngebuang pacar aku sendiri. Terasa sakit pas dia ngomong gitu lewat bbm. ‘Gak ada maksud gitu, sayang. Aku hanya ingin membiarkanmu mendingin’. Aku minta maaf, dan dia tidak memaafkanku. Dia gantung bbm aku hingga malam harinya.
                Malam harinya dia nulis status bbm bahwa dia sangat membenci sikapku. Aku terlambat ngechat dia, karna suatu hal. Aku minta maaf. Aku jelaskan tentang teoriku kenapa aku meninggalkannya tadi malam. Ku jelaskan kenapa aku begitu manja akhir2 ini. Aku sadar, aku memang agak sedikit berlebihan setelah malam itu. Malam ketika kami bersama memadu kasih di atas gunung. Tentu saja tak ada sesuatu yang fatal yang terjadi. Kami tau batasannya. Hanya saja, malam itu, dia telah merebut ciuman pertamaku, begitu juga aku. Telah merebut ciuman pertama miliknya. Aku sadar, setelah itu aku menjadi sangat manja. Aku merasa sangat disayangi olehnya. Perlakuan lembutnya, sentuhan lembutnya, membuat ku begitu merasakan sayang nya dia padaku. Aku jadi berpikir, jika dia sangat menyayangiku, maka apapun yang aku pinta, dia akan memenuhinya. Demi aku, wanita yang dia sayang.
                Pikiran itu, membuatku buta akan kepentingannya. Aku jadi sedikit egois, selalu ingin diperhatikan, dimanja, dan dipenuhi keinginannya. Tanpa peduli apa yang dia inginkan. Padahal aku tau saat itu, dia ngantuk dan ingin tidur. Tapi aku masih saja memaksanya untuk membahas suatu hal yang…. mungkin hanya boleh aku dan dia yang tau. Aku merengek dan memohon-mohon. Dia jadi sebel dan dg terpaksa memenuhi inginku. Namun aku tidak ingin dia melakukannya karna terpaksa. Feel nya pasti gak dapat. Akhirnya aku ngambek, dan dia ngebentak aku. Bikin aku langsung diam, dan ngerasain perih didada ini. Aku gak biasa dibentak. Dan paling gak suka dibentak.
                Singkat cerita, dia mau memaafkanku. Setelah aku minta maaf berkali-kali dan berjanji tidak mengulanginya. Dan malam itu pun berakhir dengan perasaanku yang mengganjal. Dia memang memberiku maaf, tapi aku merasa ada sesuatu yang akan berubah. Yang gak enakin. Mungkin saja dia masih sedikit agak kesal, pikirku. Maka setelah dia tidur duluan, aku pun menyusulnya. Berharap masalah ini benar-benar telah selesai, dan tak akan ada hal buruk lagi yang terjadi.
                Keesokan harinya, 29 januari 2015.
                Seperti biasa, dan sudah menjadi kebiasaan aku untuk sms atau ngechat dia tiap pagi. Sekitaran pukul 8 sampai 9 pagi. Hanya ingin tau dia sudah bangun atau belum, dan menanyakan apa yang akan dia lakukan hari ini. Bilang padanya apa yang akan aku lakukan hari ini. Awalnya aku agak ragu untuk ngechat dia, aku takut dia masih marah, mengingat kata perpisahannya tadi malam yang gak ada panggilan sayangnya, sama emmuach nya. Perlu diketahui bahwa, setiap kali kami ingin berpisah menjelang tidur, kata-kata seperti ini tak pernah ketinggalan. ‘Good night, yank. I love u, emmuaacch’. Selalu begitu. Namun jika terjadi sesuatu, kalimat itu akan kehilangan 5 katanya. Hanya ada ‘good night’ dan ditambah ‘daah’. L Seperti itulah kalimat perpisahannya tadi malam. Membuat ku sedikit ragu, apakah dia benar-benar telah memaafkan aku?
                Dengan bismillah aku coba ‘ping’ dia. Setelah dibalas, aku tanyakan apa yang akan dia lakukan hari ini, lalu dia juga bertanya hal yang sama. Aku bilang kalo aku gak ada rencana apapun hari ini. Cuma dirumah, nonton film, main game, terus tidur siang. Itu bosannya kalo libur semester. Kegiatan aku monoton ituuu aja. Terus dia bales, ‘jangan2 kamu gemukan nih’. Aku bilang ‘iya’. Karna emang kenyataannya berat aku nambah 1 kilo. Dia langsung bilang ‘jangan’. Bukannya bagus, biar semok, biar tambah seksi. Dia tetap ngotot ngelarang aku gemukkan. Pokonya katanya kalo udah ketemu jangan sampai aku gemukkan. Ada terkesan nada perintah disana. Karna ngerasa diperintah, emosiku agak sedikit naik. Huh lagi-lagi. Emang apa salahnya sih gemukkan. Namanya juga nganggur, dirumah doang. Nanti pas balik bjb juga pasti aku kurusan lagi. Terus tau katanya apa? ‘Ilfil’. Dia bakal ilfil kalo aku gemuk. Dari level 2, emosiku langsung meningkat ke level 7. Trus kalo ilfil ma aku, kenapa? Aku Tanya ke dia dengan nada sarat akan emosi level 7. Gak suka aja, katanya. Ah, bulshit. Aku benar-benar emosi saat itu. Apa salahnya sih gemuk? Toh dia sayang aku bukan karna penampilan fisikku kan? Kamu sering bilang itu ke aku. Jadi harusnya kamu bisa nerima aku apa adanya. Gak kayak gini. Ah, shit.
                Akhirnya, meski dia tau aku sebel, dia tetap ngotot ngelarang aku gemuk. Ya udah. Aku langsung mengakhiri obrolan kami saat itu. Dasar ngototan, otak baja. Sebel banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar