06 Juni
2013, 09.20 pm
Belum juga seminggu, dan dia pun sms
aku. Sumpah gak pernah nyangka. Turusku baru berjumlah 4, aku pikir, besok aku
akan menambahnya lagi jadi 5. Tapi tidak. Dia hadir, dia kembali, dia sms aku.
Sesuatu yang selalu ku nanti, yang selalu ku tunggu. Perasaan shock ketika
mendapati namanya muncul di display handphoneku, merasakan kaki dan telapak
tanganku dingin seketika, jantung yang tiba2 berdegup lebih kencang dari
biasanya, dan wajahku yang mulai terasa panas, tentu saja nafsu makanku hilang saat
itu juga. Aku mengalami semua hal itu kembali. Hal yang sangat aku rindukan,
aku nantikan.
Habis magrib, aku langsung siap2.
Kali ini kami hanya ketemuan. Di suatu tempat yang sebenarnya aku gak suka, dan
paling aku hindari kalo mo ketemuan ma cowo. Namun karena dia yang meminta,
bagaimana mungkin aku bisa menolak. Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Kemungkinan bahwa cewe itu adalah diriku, kini semakin dekat. Apakah dia akan
menembakku malam ini? Atau memberiku mawar? Ah. Tidak mungkin. Meski begitu,
otakku tak pernah berhenti membayangkan hal2 yang indah selama diperjalanan.
Kali ini aku tampil lebih santai. Setidaknya lebih simple dan sederhana
dibandingkan saat pertemuan terakhir kami beberapa bulan yang lalu. Tanpa tas,
bahkan aku memakai sandal paling jelek yang aku punya. Tau gak kenapa aku
begitu?
Hanya karena ingin dia menilaiku apa
adanya. Menyukai apa adannya diriku. Meski aku belum bisa tampil di depannya
tanpa eye liner. Hanya karena ingin menyamarkan bawah mataku yang menghitam, akibat
kurang tidur dan mungkin banyak pikiran.
Tiba
ditempat yang dijanjikan, dengan jeli mataku melirik setiap motor yang
terparkir disana. Mengamati sekilas nomor plat motornya. 6134 px. Hanya sekilas
saja, sudah pasti aku mengenali motor itu. Dengan helm khasnya, benda nomor 1
yang paling aku cari2 di kampus. Tidak jauh dari motor itu, seorang lelaki
duduk santai sambil mengangkat tangannya. Membelakangi jalan, dan memegang
handphone miliknya. Sendirian. Aku telah membuatnya menunggu lama, Maaf.
Setelah aku menghampiri motor itu,
barulah dia menyadari kedatanganku. Dia melihatku sekilas. Aku juga begitu.
Turun dari motorku, membuka jok motor, dan pura2 sibuk melipat jaket kulit yang
kugunakan utk melindungi tubuhku dari rintik hujan. Sambil berpikir, apa yang
akan aku bicarakan nanti dengannya. Agar suasananya nanti tidak sekaku saat
pertama kali kami berhadapan. Agar tidak banyak diam, dan sibuk dengan gadget
masing2.
Aku duduk di hadapannya. Akhirnya,
setelah sekian bulan lamanya, aku bisa sedekat ini lagi dengannya. Dapat
memandangnya sedekat ini, mendengar suaranya yang agak lucu, haha.
Tidak lama,
sepiring penuh tempura pun datang di meja kami. Ternyata dia pesan untuk
berdua. Satu piring tempura bersama? Haha. Aku mesan milo hangat. No kopi. Aku
tidak akan lagi mengambil resiko insomnia semalaman gara2 segelas kopi
berkafein yang bikin aku, sumpah, lemes besok paginya. Yahh meskipun, tanpa
kopi pun, sudah dipastikan aku insomnia malam ini.
Dan waktu pun berjalan. Yang kami
bicarakan lebih banyak tentang kampus. Mahalnya biaya kampus, KTI, UAS, dan tentang
ILMAGI.
Diary, apa
yang kulakukan selama ini. Untuk menunjukkan eksistensi diriku dan menarik
perhatiaannya, mengikuti organisasi tingkat nasional agar terlihat keren di
depannya, semua tidak ada artinya bagi dia. Dia sangat membenci kampus. Dan dia
menganggap, dengan memajukan kampus melalui organisasi, itu melelahkan, dan dia
sangat tidak mendukung hal itu. Aku salah. Aku pikir dia akan memujiku, dia
akan mendukungku, dan menganggap diriku hebat. Tapi ternyata tidak. Aku tidak
berhasil menarik perhatiannya. Bahkan, bisa jadi dia mencibirku. Dalam hati dia
berkata ‘cih, apaan ikutan kayak gituaan. Kurang kerjaan.’
Jadinya,
yang tadinya aku pengin cerita kalo bentar lagi aku ke Surabaya, ngehadirin
acara ilmagi, niat itu aku urungkan. Aku tidak ingin merasa dicibir lagi.
Diary, disuatu kesempatan, aku
menanyakan hal yg selama ini membuatku galau. Aku menanyakan siapa cewe di
statusnya itu. Dan tau dia bilang apa? ‘Tidak ada, bukan siapa2. Iseng doang nulis
kayak gitu. Supaya pada rame aja’. Setelah itu, dia menceritakan tentang
dirinya. Katanya dia gak mau pacaran dulu. Katanya pacaran itu gitu2 aja. Sms
nanya udah makan atau belum, gitu2 doang. Mending jomblo. Gak ada yang ribut smsin.
Dan tau itu
artinya apa? Dia menolak perasaanku secara halus. Dia gak bakalan nembak aku.
Dan aku gak akan jadian sama dia sampai kapan pun. Tentu saja, kemungkinan dia
menyukaiku sangatlah tipis.
Diary aku
sedih. Aku harus gimana? Haruskah aku menyerah pada perasaanku? Haruskah aku
melepaskannya? Membuang semua mimpi itu? Haruskah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar