29 april 2015, 01.05 am
Kini, semua terasa terulang kembali. Masa2 itu. Ketika aku pertama kali melihatnya, mulai mengaguminya, menperhatikan tingkah lakunya.
Hanya 1 alasan. Keren. Dia terlihat keren dg kamera DSLR didepan wajahnya. Dia terlihat keren dg gaya juteknya. Membuat mata ini selalu mencari fokus dirinya. Karna dg memandang dia, aku dapat tersenyum. Karna dg mengamati setiap langkahnya, aku dapat menemukan suatu hiburan ditengah rasa bosanku.
Dia dengan kamera yang menggantung dilehernya. Dia yang hampir tak pernah tertawa. Dia yg mengacuhkanku ketika aku meminta ttd padanya, dia yg menerima surat cinta dan kritikku. Dia yg tak pernah lepas dari pandanganku.
Memandangnya merupakan suatu hiburan utkku. Ketika aku merasa terkucil, ketika aku merasa kecil, dan ketika aku merasa sendiri seperti ini. Berada di lingkungan yg baru dan di antara org2 baru. Aku merasa kerdil. Ingin menangis rasanya.
Namun ketika aku memandangnya, segalanya terasa berbeda. Seperti menemukan sebuah bintang dilangit malam. Dia bersinar ditengah kegelapan. Hanya dia yg bersinar. Jadi bagaimana mungkin aku luput memperhatikannya? Dia begitu menarik perhatianku. Membuatku ingin selalu melihatnya, melihatnya dan melihatnya.
2 tahun yg lalu, saat2 yg tak pernah kulupakan. Selalu ku ingat dan ku simpan rapi di memori otakku. Aku takkan melupakan itu.
Berbaris dilapangan kampus dg atribut khas ospek, mengingatkanku ketika pertama kali ku melihat dirinya bersama kamera DSLR didepan wajahnya. Memakai jas almameter oren, dia sedikit membungkuk, memicingkan mata, lalu jepret. Seperti seorang fotografer. Aku sangat menyukai pose itu. Berada di aula kampus dg seragam putih hitam, dg suasana ruangan yg sejuk krna ac, mengingatkanku ketika dia duduk disamping kanan ruangan. Duduk sendirian sambil memandang display kamera ditangannya. Aku memperhatikannya dari tempat dudukku ditengah ruangan dibarisan mahasiswa sebelah kiri. Dg leluasa aku dpt memandanginya sepuasku. Namun, ditengah keasikanku, tiba2 dia mengangkat wajahnya dan matanya langsung mengarah padaku. Spontan, ku palingkan wajahku ke depan. Mungkin aku tertangkap basah telah memperhatikannya. Agak malu. Namun tetap saja, tak membuatku berhenti utk mencari2 sosok dirinya dimana pun aku berada. Lalu ketika malam inagurasi, dia memakai kemeja batik coklat muda. Dia membacakan surat dari seorang teman utk kaka panitia lain. Suaranya, aku agak lupa bagaimana. Hanya saja, saat itu dia tertawa. Itu kali pertama ku melihatnya tertawa. Aku membuat surat utknya. Tanpa no. Hp. Hanya nama, foto dan cap bibir merah hasil print. Aku tak berharap dia menyukaiku seperti aku menyukainya. Mungkin aku berharap dia dapat mengenaliku dari pas foto itu. Hanya sebatas itu.
Khafi, aku mencari bayang2mu selama 2 hari ini. Aku mengingat semuanya dg jelas. Sperti sebuah film layar lebar yang terus berada didepanku mengiringiku kemana pun ku pergi. Memutarkan semua yang terjadi hari itu. Aku mengenangmu. Aku ingin melihatmu seperti itu lagi. Aku merindukan saat2 itu. Biarpun kita tidak saling kenal, aku bahagia hanya dg melihatmu seperti itu. Kebahagiaan yg tak bisa ku mengerti. Memandangmu dari kejauhan. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu, ka kahfi.
On your facebook, you write "it's all about you". I don't know who you mean by 'you'. But I also want to say that I have written about you too here. This is all about you too, al.
Selasa, 28 April 2015
Nostalgia ospek
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar